GROWTHNEY.COM – Pada hari ketika tidak ada yang benar-benar terlihat berbeda, semuanya berjalan seperti biasa, sebagaimana mestinya. Namun, ternyata apa yang terasa mendadak itu sebenarnya telah berlangsung dalam diam yang lama, jauh sebelum akhirnya semua terlihat dengan jelas, sangat jelas. Kejadian itu tidak hanya berdampak secara emosional, tetapi juga melumpuhkan seluruh tubuh, memberi rasa tenggelam dan kehabisan napas yang nyata.
Pada saat yang sama, hal itu mengubah caraku memahami apa yang terjadi dan membuatku mempertanyakan sesuatu yang selama ini aku anggap pasti: kepercayaan.
Dalam berbagai bentuk hubungan, kepercayaan sering hadir tanpa banyak syarat. Kepercayaan merupakan dasar terpenting dari sebuah hubungan yang sehat dan stabil. Ia bertumbuh dari interaksi, dari rasa nyaman, dan dari keyakinan bahwa apa yang kita berikan akan dijaga dengan cara yang sama seperti yang kita lakukan.
Kepercayaan menjadi pondasi dalam hubungan interpersonal yang dibangun atas harapan akan kejujuran, konsistensi, dan rasa aman secara emosional. Namun, ketika terjadi pengkhianatan, baik dalam bentuk kebohongan maupun tindakan yang bertentangan dengan ekspektasi, yang rusak bukan hanya hubungan itu sendiri, tetapi juga sistem kepercayaan kepada orang lain secara lebih luas.
Kepercayaan tidak selalu runtuh karena satu peristiwa besar yang terlihat jelas. Dalam banyak kasus, retaknya kepercayaan justru berawal dari kebohongan sederhana, dari kata-kata yang terdengar meyakinkan, dari sikap yang tampak biasa, bahkan dari perilaku yang tenang namun ternyata menyimpan sesuatu yang tidak sepenuhnya jujur.
Ketidakjujuran sudah menjadi bagian dari interaksi manusia sehari-hari, bahkan dalam banyak situasi sosial dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Seseorang yang sedang berbohong tidak selalu menampilkan respons yang gugup. Sebaliknya, ia dapat mengendalikan gerak tubuh dan mempertahankan penampilan yang tampak normal sehingga sulit dikenali. Studi lain bahkan menunjukkan bahwa individu dapat berbohong setidaknya satu hingga dua kali dalam sehari tanpa menganggapnya sebagai tindakan yang serius.
Namun, dalam hubungan yang melibatkan kedekatan emosional, kebohongan tidak lagi berada dalam ranah yang netral. Perlahan ia mengikis kualitas hubungan karena interaksi yang dilandasi kebohongan cenderung menjadi kurang bermakna. Hubungan tersebut akan berkembang menjadi bentuk kepura-puraan serta menciptakan realitas yang tidak sepenuhnya nyata. Pada akhirnya, terjadi hal menyakitkan bahwa apa yang selama ini dipercaya ternyata tidak sepenuhnya benar, dan kesadaran itu menciptakan luka yang berdampak nyata, baik secara fisik maupun emosional.
Pengkhianatan seperti ini sering kali terjadi dengan pola yang familiar. Setelah ketahuan, pelaku kadang tampak menyalahkan dirinya sendiri, tapi dengan cara yang aneh. Bukan karena telah berbohong, melainkan karena “tidak bisa mengendalikan diri” untuk merasa cukup dengan pasangannya. Ia terus-menerus mencari perhatian dari orang lain seakan-akan tidak pernah mendapatkannya sama sekali. Di sisi lain, secara tersirat korban justru disalahkan karena “terlalu menyukai, terlalu sayang, dan terlalu perhatian”, padahal perasaan-perasaan tersebut tumbuh sebagai reaksi alami dari rasa suka, rasa sayang, dan perhatian yang diberikan oleh pelaku. Banyak kontradiksi antara apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan oleh pelaku. Mengapa pola ini begitu umum dan apa yang sebenarnya terjadi pada orang yang dikhianati?
Mengapa Seseorang Tetap Memilih Berbohong dan Selingkuh Meski Tampak Menginginkan Hubungan Itu?
Salah satu yang menjadi tanda tanya besar bagi korban perselingkuhan adalah kontradiksi antara: “Jika memang tidak menginginkan hubungan ini, mengapa tetap memilih untuk menjalaninya?” “Mengapa memberi kesan antusias dan bersungguh-sungguh sambil terus berbohong di belakang?”
Psikologi punya satu nama untuk kondisi tersebut, yaitu cognitive dissonance. Istilah ini, yang diperkenalkan oleh Leon Festinger pada 1957, menggambarkan kondisi ketika tindakan seseorang tidak sejalan dengan nilai atau citra diri yang ingin ia pertahankan. Dalam konteks ini, seseorang percaya bahwa dirinya adalah pasangan yang baik, namun secara sadar ia juga melakukan hal-hal yang bertentangan dengan keyakinan tersebut. Daripada berhenti berbohong dan mengakui bahwa itu adalah hal yang salah, ia justru merasionalisasi tindakannya agar tetap terlihat sebagai “orang baik” di mata sendiri maupun orang lain.
Sebuah studi terhadap pelaku perselingkuhan menemukan bahwa salah satu strategi paling umum yang digunakan untuk meredakan disonansi ini adalah mengubah cara pandang terhadap dirinya sendiri (self-concept change), bukan dengan menyangkal apa yang terjadi, melainkan menyesuaikan cara pandangnya terhadap citra diri agar tindakan tersebut tidak lagi terasa bertentangan dengan siapa ia sebenarnya. Hal ini membuat seseorang bisa berkata “aku bukan orang seperti itu” sambil terus melakukan hal yang sebenarnya bertentangan dengan ucapannya sendiri.
Dari sini muncul pola berikutnya, yaitu self-serving bias. Ketika tindakannya terungkap, pelaku enggan mengakui bahwa semua itu adalah pilihannya secara sadar. Sebaliknya, ia menjadikan dirinya sebagai pihak yang “terjebak”, “tidak bisa tegas menolak”, atau “kewalahan” karena perasaan orang lain. Tanggung jawab yang seharusnya melekat padanya dialihkan menjadi beban orang lain. Sehingga situasinya berubah, bukan “aku memilih berbohong”, melainkan “aku tidak punya pilihan lain”.
Psikolog Albert Bandura menyebut mekanisme pelepasan tanggung jawab ini sebagai moral disengagement, yaitu proses melepaskan diri dari standar moral tanpa merasa bersalah, sehingga seseorang bisa membenarkan perilaku yang seharusnya menimbulkan konflik batin di dalam dirinya.
Sebuah studi pada pasangan-pasangan di Austria dan Jerman menemukan bahwa individu dengan kecenderungan moral disengagement yang tinggi ternyata lebih sering berselingkuh dibandingkan dengan individu dengan kecenderungan yang rendah. Mereka menyadari bahwa tindakan tersebut salah secara moral, hanya saja mereka memilih untuk mengabaikan kesadaran tersebut ketika menyangkut perilaku mereka sendiri.
Dalam konteks inilah muncul narasi “semua ini terjadi karena kamu yang terlalu menyukaiku” sebagai salah satu cara pelaku untuk tetap merasa “aku tidak benar-benar bersalah di sini”, seolah-olah perasaan tersebut muncul dari ruang hampa, bukan dari perhatian, kehangatan, dan sinyal yang sengaja atau tidak sengaja diberikan oleh pelaku.
Yang membuat pola ini terasa lebih menyakitkan adalah ketidaksesuaian antara kata yang terucap dan tindakan yang dilakukan. Seseorang bisa berulang kali menyatakan komitmen, menunjukkan banyak usaha, dan bahkan merancang masa depan bersama, namun pada waktu yang sama ia juga melakukan hal-hal yang justru bertolak belakang. Bagi pihak yang dikhianati, kontradiksi ini tidaklah sederhana. Inilah yang membuat luka terasa berlapis: bukan hanya dikhianati, tetapi juga ditipu untuk mempercayai sesuatu yang tidak sepenuhnya nyata.
Apa yang Sebenarnya Terjadi pada Orang yang Dikhianati?
Mayoritas orang menganggap rasa sakit akibat perselingkuhan dan rasa sakit akibat putus cinta berada pada tingkatan yang sama. Padahal, secara psikologis, keduanya berbeda.
Konsep betrayal trauma menjelaskan bahwa pengkhianatan oleh seseorang yang sangat dipercaya seperti pasangan, sahabat, dan anggota keluarga, bisa memberi dampak yang lebih dalam dibandingkan dengan kehilangan karena sebab lain. Hal ini berdampak bukan hanya pada perasaan, tetapi juga pada basic trust atau keyakinan dasar bahwa orang-orang tersebut akan bersikap jujur, menjamin keamanan, dan bisa diandalkan.
Bagi seseorang yang dikhianati, rasa sakit juga berdampak secara fisik. Penelitian menemukan bahwa korban perselingkuhan kerap mengalami gejala fisik seperti insomnia atau hipersomnia, penurunan berat badan, kesulitan berkonsentrasi, hingga kehilangan minat terhadap hal-hal yang sebelumnya ia sukai segera setelah pengkhianatan terungkap. Beberapa lainnya bahkan mengalami kesulitan bernapas, tubuh bergetar, jantung berdebar kencang, dan rasa mual setiap kali kenangan akan peristiwa tersebut muncul. Dampak ini merupakan bukti bahwa pengkhianatan oleh figur yang sangat dipercaya diproses oleh tubuh selayaknya ancaman nyata terhadap keselamatan, bukan sekadar persoalan emosional yang dapat diatasi dengan menguatkan hati dan “move on”.
Situasi tersebut diperparah oleh kecenderungan seseorang yang dikhianati untuk ikut menyalahkan diri sendiri. Pola ini berkaitan dengan rumination, yaitu memutar ulang kejadian dan pertanyaan yang sama berulang-ulang tanpa adanya jawaban atau solusi. Pertanyaan seperti “Apa salah jika aku terlalu menyukai dia?” adalah pertanyaan yang sebenarnya keliru sejak awal, karena menyukai seseorang, sebesar apa pun, bukanlah kesalahan. Yang menjadi masalah adalah ketika rasa suka itu dimanfaatkan, dibiarkan tumbuh tanpa kejujuran, lalu pada akhirnya dijadikan alasan untuk menyalahkan pihak yang justru dirugikan.
Ketika seseorang mengalami pengkhianatan, dampaknya bisa lebih dalam dari sekadar kesedihan sesaat. Pengalaman ini membentuk trauma untuk waktu yang cukup lama, namun bukan berarti tidak bisa disembuhkan. Proses pemulihannya bertahap, dan memahami apa yang sedang terjadi pada diri sendiri merupakan langkah pertama untuk memulainya.
Self-Esteem sebagai Jalan untuk Bangkit
Jika kepercayaan pada orang lain bisa runtuh dalam sekejap, bagaimana cara membangunnya kembali, terutama kepercayaan pada diri sendiri?
Korban pengkhianatan sering terjebak dalam dua arah self-blame yang sama-sama tidak sehat, antara menyalahkan diri karena “terlalu percaya” dan menyalahkan diri karena merasa “tidak cukup baik”, sehingga pasangan mencari perhatian dari orang lain. Kedua narasi ini meletakkan akar masalah pada diri korban, padahal akarnya ada pada pilihan dan kejujuran pihak yang berkhianat.
Self-esteem yang sehat berfungsi sebagai “bantalan” psikologis. Penelitian dalam psikologi sosial menunjukkan bahwa individu dengan self-esteem yang lebih rendah cenderung menyalahkan diri sendiri ketika mengalami suatu tekanan, sementara individu dengan self-esteem yang lebih tinggi cenderung mengatribusikannya kepada sebab-sebab eksternal. Dalam konteks pengkhianatan, ini berarti individu dengan self-esteem yang stabil cenderung lebih mampu memisahkan antara “apa yang terjadi padaku” dengan “siapa aku sebenarnya”, sehingga pengkhianatan dipahami sebagai cerminan pilihan orang lain, bukan cerminan nilai diri sendiri.
Pada akhirnya, pengalaman dikhianati, bisa menjadi titik balik untuk sesuatu yang lebih besar. Karena di tengah semua kebingungan, pertanyaan, dan luka yang diakibatkan oleh pengkhianatan, ada satu hal yang sepenuhnya dipegang oleh korban, yaitu bagaimana korban memperlakukan dirinya setelah kejadian ini.
Penelitian menunjukkan bahwa self-esteem berperan sebagai penyangga psikologis yang secara nyata dapat meminimalkan dampak perselingkuhan dan mempercepat proses pemulihan, bukan karena self-esteem membuat korban tidak merasakan sakit, tetapi karena ia membantu untuk tidak membiarkan rasa sakit itu mendominasi. Self-esteem yang kokoh adalah dasar untuk menjalani hubungan yang lebih sehat, bukan hanya dengan orang lain tetapi juga dengan diri sendiri. Menyadari bahwa kita layak diperlakukan dengan jujur, layak dipercaya, dan layak dicintai tanpa harus membuktikan terlebih dahulu bahwa kita cukup.
Hari itu, ketika semuanya runtuh tanpa peringatan, aku belum tahu bahwa yang sedang dipertaruhkan bukan hanya hubungan dengan orang lain, tapi juga hubunganku dengan diri sendiri, serta proses memperbaikinya. Sekecil apa pun, dimulai dari sini, dari diriku dengan diriku sendiri.
Penulis: Annisa Wulandari
Editor: Rifaldi Hapili