GROWTHNEY.COM – Tim-tim Eropa saat ini sedang berupaya memperkuat kembali armada pasukannya untuk mengawali musim baru yang telah bergulir. Membeli, meminjam, atau mengorbitkan pemain menjadi hal yang dilakukan klub untuk menjalani musim yang semakin kompetitif.
Mengenai musim transfer, tentu tak bisa lepas dari perbincangan soal desas-desus transfer pemain. Saat itulah, satu-satunya sosok viral ini yang paling ditunggu-tunggu unggahannya. Ia menjadi sosok paling sibuk sedunia apabila jendela transfer resmi dibuka. Dialah satu-satunya—’The God of Transfer’—Fabrizio Romano.
Pakar transfer sekaligus Jurnalis terkemuka yang memiliki keakuratan transfer hingga 99,99%. Apa pun yang keluar dari ‘lisannya’ dan ‘tulisannya’, itulah yang menjadi rujukan seluruh dunia. Apalagi, ketika slogan andalan ‘Here We Go’ sudah dikeluarkan, maka itulah kebenaran hakiki yang pasti terjadi.
Fabrizio Romano: The One and Only Dewa Transfer

Romano merupakan Jurnalis yang bekerja untuk beberapa media sekaligus seperti Sky Sport, Calciomercato, dan The Guardian. Ia bahkan sudah memulai karirnya saat masih berusia 18 tahun. Berkat kerja keras dan kegigihannya, hingga kini Sang Dewa Transfer menjadi rujukan utama bagi para penggemar.
Bukan hanya itu, agen pemain dan manajemen klub—baik penjual atau pembeli—bahkan memintanya untuk memperkuat rumor transfer agar keterpaparan (exposure) dan penawaran (bidding) transfer pemain berjalan mulus.
Entah mengapa banyak sekali hal yang menarik untuk diteliti dari Romano; ia menjadi magnet penting bagi dunia transfer sepak bola. Bukan berarti mengecilkan pakar transfer hebat lainnya, hanya saja terdapat daya tarik khusus dari pria kelahiran 21 Februari 1993 ini.
Caranya mengumpulkan informasi tidak seperti jurnalis pada umumnya; ia bagaikan sedang melakukan investigasi pembunuhan yang pelakunya masih misterius. Unik, menarik, dan memiliki daya pikat yang fantastis bagi dunia sepak bola.
Seharusnya anak muda Indonesia, terutama para pemuda, perlu mengambil pelajaran dari etos kerjanya ini. Bekerja dengan totalitas dan benar-benar berkomitmen tinggi. Apabila pemuda kita mencontohnya, niscaya kesuksesan dan kejayaan hidup bukan lagi fatamorgana belaka.
Menurut hasil pengamatan penulis, ada beberapa hikmah penting yang wajib dimiliki para pemuda tanah air berdasarkan dari perjalanan karir Fabrizio Romano di antaranya:
Enam Pilar Kesuksesan ala Fabrizio Romano
Investigasi Informasi secara Akurat, Cepat, dan Tepat

Bagaimana kira-kira pria kelahiran Kota Naples ini melakukan tugas peliputannya?
- Pertama, Romano melakukan investigasi dan mencari informasi dari sumber pemain yang bersangkutan. Biasanya ia menghubungi agen pemain langsung, petinggi klub seperti presiden, direktur, pelatih, atau manajemen yang berkaitan dengan transfer.
- Kedua, ia langsung mengunjungi markas klub, hotel, tempat latihan, dan lokasi sejenisnya untuk menunggu petinggi atau agen pemain plus melakukan wawancara dadakan (doorstop).
- Ketiga, agen pemain atau pihak klub langsung menghubungi Romano untuk mengunggah berita tersebut agar terjadi tekanan publik (publicity pressure) untuk mendongkrak nilai pemain yang bersangkutan.
Cara Romano bekerja memang dikenal akurat, cepat, dan tepat. Pihak klub dan agen pemain bahkan percaya sepenuhnya terhadap apa yang ia lakukan. Kredibilitas, integritas, dan profesionalitasnya menjadi rujukan bukan hanya dalam dunia jurnalistik secara khusus, bahkan dalam dunia kerja secara umum.
Kerja Keras dan Kerja Cerdas yang Terkombinasi
Kerja keras memang penting, tetapi kerja cerdas tidak kalah penting. Romano mengombinasikan keduanya sehingga hasil yang didapatkan hampir tidak pernah meleset. Dilansir dari Goal, dalam sehari ia melakukan panggilan telepon hingga 50 kali dan hanya istirahat 5 jam per hari.
Tidak ada satu pun pihak yang membantah informasi valid yang didapatkannya karena memang semuanya telah dibuktikan terlebih dahulu sebelum rumor transfernya berubah menjadi ‘Here We Go’. Sebelum pihak klub meresmikan transfer pemain, Romano sudah terlebih dahulu mengantongi detail transfer sang pemain. Cerdas dan cadas!
Hal ini menjadi ironi sekaligus tamparan keras untuk para pemuda. Banyak pemuda kita yang belum bersungguh-sungguh dalam bekerja apalagi beribadah. Beribadah sekadarnya bahkan malas-malasan, menginginkan gaji besar tapi tidak sesuai dengan tenaga dan pikiran yang ia berikan untuk perusahaan.
Belajar dari Para ‘Pakar’
Seperti kata pepatah: “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.” Hubungan guru dan murid amat sulit dipisahkan; dengan siapa seseorang menimba ilmu, maka sang gurulah yang memiliki peran vital. Romano sendiri berguru dengan seorang Jurnalis kondang Italia, yaitu Gianluca Di Marzio. Sosok penting dalam karirnya hingga mentereng seperti sekarang.
“Saya mulai semua ini bersama Gianluca Di Marzio. Itu banyak memberikan pelajaran bagi saya,” ucap Romano, dilansir dari Voi dalam sebuah wawancara.
Di Marzio merupakan pakar transfer senior sebelum Romano terkenal. Ia membantu Romano dalam mengumpulkan informasi dan membangun jaringan. Hingga kini, hubungan mentor dan murid ini masih harmonis.
Tidak satu pun manusia yang berilmu selain memiliki guru. Guru yang tepat akan membentuk pribadi yang tepat pula. Sebaliknya, guru yang salah hanya akan menghasilkan murid yang salah pula. Pentingnya berguru dengan guru yang bersanad sebagai penanda penjaga warisan ahlu sunnah waljama’ah.
Membangun Personal Branding yang Kuat
Aspek diferensiasi dalam sebuah brand memiliki peran penting untuk memperoleh keterpaparan (exposure) yang masif dan cepat. Citra diri (Personal branding) yang kuat inilah yang menyebabkan citra Romano cepat dikenal publik. Diksi ‘Here We Go’ yang digunakan semakin menegaskan posisinya yang kuat dalam benak penikmat sepak bola. Belum lagi ditambah penampilan menarik khas negara pizza, lengkaplah citra diri ia yang paripurna.
Mencintai Pekerjaan dan Anti Gengsi Memulai dari Bawah
Fabrizio Romano tidak tiba-tiba langsung menjadi jurnalis tersohor dunia, melainkan ia melewati lika-liku pahitnya menjadi wartawan lokal dan menulis untuk website kecil di Italia.
Suatu kali ia dihubungi dan diminta oleh seorang agen pemain untuk menulis artikel mengenai Mauro Icardi dan Gerard Deulofeu yang saat itu masih berada di tim cadangan (second team) Barcelona. Kemudian ia meminta informasi mengenai pemain tersebut dan akhirnya, transfer Icardi ke Inter menjadi awal meledaknya karir ia.
Hebatnya, tidak ada kata gengsi dalam kamus hidup Romano. Semua ia jalani dengan penuh kecintaan, ketekunan, dan atas dasar profesionalisme. Memulai pekerjaannya dari tangga paling bawah sambil perlahan menuju puncak dengan membangun kredibilitas dan integritas.
Banyak orang yang mengaku kecewa dengan pekerjaan yang dimilikinya sekarang. Penyebabnya bervariasi mulai dari gaji yang kecil, jabatan yang tidak sesuai dengan disiplin ilmu, atau bisa juga sebab lainnya. Namun, berbeda halnya dengan Romano, ia mencintai pekerjaannya secara total tanpa memedulikan berapapun gaji yang ia peroleh. Sekarang Romano sudah meraih semua kesuksesan dan ketenaran.
Keterampilan Lunak (Soft Skill) Tingkat Tinggi dalam Membangun Relasi
Fabrizio Romano bukanlah jurnalis sembarangan, ia selalu menjaga relasi dengan berbagai petinggi klub, agen pemain, dan orang-orang yang berhubungan dengan pemain. Akibatnya, ia memiliki relasi dan jaringan informan yang kuat. Romano bahkan dikatakan memiliki akses langsung ke pemilik klub seperti Aurelio Di Laurentiis (pemilik Napoli) dan Agnelli (pemilik Juventus), dan pemilik klub lainnya.
Keterampilan lunak tingkat dewa ini memang hanya bisa dilakukan oleh manusia yang juga memiliki julukan dewa. Ya, itulah sang Dewa Transfer, Fabrizio Romano.
Nah, itulah enam hikmah yang bisa dipetik para pemuda dari Fabrizio Romano, pakar transfer terkemuka. Sekarang para pemuda harus memahami bahwa untuk mencapai kesuksesan tidak hanya butuh kerja keras, melainkan kerja cerdas, cepat, tepat, akurat, memiliki citra diri yang kuat, dan pintar membangun relasi.
Penulis: Widya Wati
Editor: Hudalil Mustakim