Privasi Manusia Kini Semudah Bibir Cangkir yang Dicicipi? Mengapa Kita Kehilangan Kontrol Diri di Media Sosial

Suryani punya ekspektasi, tubuhnya adalah pribadi, aman, dan rahasia. Bukan seperti bibir cangkir yang bisa dikecup dan dicuci ulang orang lain. Maka ia tahu betul harus menjaganya.

Dilema Suryani: Ketika Tubuh dan Rahasia Tak Lagi Menjadi Pribadi

Dalam film Photocopier (2021) itulah ironi terjadi, hak Suryani terhadap tubuhnya direnggut oleh Rama yang jahat dan rendah moral. Si penjilat ini menghancurkan bangunan privasi Suryani.

Tokoh Suriyani, diperankan oleh Shenina Cinnamon
Tokoh Suriyani, diperankan oleh Shenina Cinnamon

Tetapi diketahui kemudian, tindakan gegabah Suryani sendirilah juga yang membalik privasi menjadi ruang publik. Ia tidak berdaya menolak minum alkohol, hingga dalam ketidaksadarannya ia ditelanjangi Rama. Pada akhir kisah ini tidak ada kejelasan mutlak bagi Suryani untuk menemukan privasi.

Setelah Prenjak (2016), Wregas kembali mengangkat keprihatinan tentang tubuh yang dieksploitasi dalam Photocopier. Bagaimana area privasi sudah bukan lagi area yang selayaknya. Namun lingkup isu ini baru sebagian saja dari konektivitas manusia di era ini.

Wilayah lain dari realitas hubungan antar manusia adalah dunia digital. Pengguna internet di Indonesia misalnya terus meningkat pesat dari tahun ke tahun. Seperti diungkap Muhammad Arif dalam Indonesia Digital Outlook 2022.

“Kini kurang lebih 77 persen penduduk Indonesia sudah menggunakan internet.” Kata Arif mengutip dari CNBC.

Belanga Raksasa yang Membuat Gerak-gerik Kita Terang-Benderang

Seakan kita masuk ke wadah yang sama. Seluruh gerak-gerik kita menjadi makin terang-benderang di media-media sosial, lebih dari sebelumnya. Sebagai contoh, negara dengan internet yang lebih terpusat seperti China, aktivitas masyarakat di media sosial diawasi ketat oleh pemerintah (Understanding Digital Literacy, 2021).

Melalui semua pengalaman di atas, manusia yang butuh rasa aman dapat bertanya, masihkah ada area privasi dalam jaring relasi kehidupan saat ini? Faktanya, seseorang dari satu sisi pandang adalah objek untuk terus diawasi dan diukur, seperti dalam logika algoritma misalnya.

Bagaimana seluruh aktivitas kita diekstrak sebagai data dalam membuat model siapa kita. Di sisi lain, kita pun bisa menjadi pelaku yang dapat melakukan hal yang sama kepada orang lain. Kita selalu mungkin menjadi  ‘yang di dalam aquarium’ maupun ‘yang memandang’ apa yang di dalam aquarium.

Demikian itu merupakan konsekuensi dari relasi antar kita, baik dalam ruang lingkup internet atau tidak. Memang, banyak pengalaman telah menyimpulkan karena kemajuan teknologi, privasi seorang individu nyaris mustahil.

Namun, saya berpandangan bahwa masih ada keleluasaan pribadi (hak dan privasi) yang selalu menjadi milik tiap orang, yakni kebebasan untuk memimpin dirinya sendiri.

Benteng Terakhir: Otonomi Pribadi dan Kontrol Informasi

Film dokumenter lainnya yaitu The Social Dilemma (2020) garapan Jeff Orlowski adalah refleksi penting tentang sebuah citra manusia yang menggunakan media sosial sebagai tempat menciptakan jejaring yang sama dengan orang lain.

Menariknya, ini menarasikan bagaimana hubungan yang kita bangun melalui internet (media sosial) telah bergerak dan tak terhindarikan bagi kita. Yang awalnya hanya sekedar alat pasif, sekarang sangat masif menuntut menggunakan psikologi manusia.

Tristan Harris  dari Google Former Design menyatakan bahkan emosi dan perilaku kita dapat dikendalikan dan dikuasai oleh media sosial. Setiap waktu itu dipantau dan direkam. Apakah sedang kesepian atau depresi, semua dapat diketahui. Seberapa intens kita mengklik suatu hal, misalnya saja kemudian menjadi tugas algoritma mencari tahu apa yang harus ditunjukkan, supaya kita terus disuapi aneka hal dari pemahaman konten tentang diri kita.

Maka, keleluasaan kita menjadi tidak sepenuhnya ada. Seperti Suryani, ekspektasi jatuh ke dalam impotensi yang sama untuk merahasiakan hal-hal tentang diri kita.

Hal tersebut terjadi lantaran privasi dimaknai hanya sebagai  ‘rahasia umum’ dari seseorang. Untuk memperluasnya perlu pemahaman baru, bahwa privasi pada dasarnya adalah kemampuan untuk mengontrol informasi apa tentang diri kita untuk diungkapkan atau disembunyikan (Understanding Digital Literacy, 2021).

Maksudnya, dalam berjejaring logika privasi yang bisa kita harapkan dan sesuai dengan budaya zaman yang serba terbuka ini adalah mengontrol informasi lebih daripada sekedar menyembunyikannya. Jadi, privasi yang dimengerti sebagai kemampuan mengontrol informasi telah membuka pengetahuan bahwa privasi selalu dapat ‘diekspektasikan’ secara berbeda pada tiap-tiap orang yang saling berelasi.

Akhirnya, perbedaan privasi  menunjuk pada kenyataan yang satu, tentang kebebasan sebagai milik sejati tiap individu atau kelompok manusia. Kebebasan, yang utamanya terdiri dari rasa, merupakan unsur yang paling menentukan apakah privasi itu sebenarnya masih mungkin terjadi.

Batin seseorang misalnya, tidak dapat dibaca sepenuhnya oleh algoritma, kecuali orang itu sendiri menguraikan apa nalar dari perasaannya. Saat manusia berhubungan dengan orang lain, rasa menjadi ‘rahasia’ atau ‘keleluasaan’. Itulah yang muncul pertama dan merupakan privasi paling sederhana dan alami yang dimiliki manusia, karena pada dirinya ia bebas untuk mengontrolnya, mau diungkapkan atau dirahasiakan.

 

Penulis: Beda Holy Septianno

Editor: Hudalil Mustakim

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bergabung di Buletin Growthney dan dapatkan email pemberitahuan dari kami!

We promise we’ll never spam! Take a look at our Privacy Policy for more info.

5 Essai Pilihan

Section Title

⚡Terpopuler Pekan Ini