Beranda » Anak Muda » Realita “Baku Gara” di Piala Dunia 2022

Realita “Baku Gara” di Piala Dunia 2022

Realita "Baku Gara" di Piala Dunia 2022 2

Realita "Baku Gara" di Piala Dunia 2022

Saat tengah mengunjungi seorang saudara yang terbaring lesu di rumah sakit, aku bertemu dengan keluarga lainnya. Hal yang tak terpikirkan adalah, ketika dirinya bertanya tentang jadwal Piala Dunia 2022 atau Piala Dunia FIFA 2022 World Cup dan aku tak bisa menjawabnya. Yang menjadi keanehan, bukan tentang jadwal pertandingan yang “saat itu” sudah tidak saya ketahui.

Tapi, bisa-bisanya di tempat di mana para manusia sibuk mengurusi keberlanjutan hidup, mengorbankan segala hal demi bisa bernafas dengan lancar, kini muncul pertanyaan serius tentang jadwal sepak bola. Ini membuktikan bahwa sepak bola, dalam skala internasional menjadi peristiwa besar yang diikuti oleh banyak kalangan, termasuk mereka yang jarang dan bahkan tidak berminat bermain sepak bola.

Bisa-bisanya ada orang yang menjadi penyuka “sesuatu”, tanpa benar-benar merasakan “sesuatu” itu? bisa-bisanya ada yang suka menonton pertandingan bola, padahal dirinya sendiri mengakui tentang ketidaksukaanya untuk bermain bola. Realitas selalu berjalan bersama “Keanehan”.

Sedikit mengacu pada dikursus ilmiah, momen itulah yang disebut sebagai era Post Truth. Era di mana semua jarak berusaha ditepis, sampai sesuatu yang berjarak “hampir” tidak memiliki perbedaan. Jika tak cukup pengamatan, orang akan melihatnya sebagai sebuah “kesamaan” padahal merupakan “perbedaan”.

Fase di mana pembatas antar benar dan salah, sudah kabur dan hampir tidak memiliki ruang lagi. Realitas ini membuat seseorang gampang terpengaruh untuk terlibat dalam euforia sesuatu, tanpa pernah benar-benar merasakannya. Seseorang bisa begitu girang menonton sepak bola, meskipun menyadari tentang ketidaksukaanya tentang sepak bola itu.

Artikel Terkait: Piala Dunia dan Belenggu Masalah dalam Negeri

Meski perbedaannya sangat tipis, namun tetap saja ada perbedaan. Para penyuka sepak bola “dadakan” ini, tiba-tiba menjadi seperti itu, karena ada realitas “Baku Gara” yang menjadi bagian penting dalam pertandingan sepak bola. “Baku Gara” adalah kondisi ketika “saya” memiliki kelebihan, tengah mengejek seseorang yang mempunyai kekurangan.

Tak muluk-muluk, realitas “Baku Gara” kali ini terjadi saat Timnas andalan “saya” meraih kekalahan, dan saya harus menguatkan diri menerima berbagai celoteh meledek dari kawan-kawan yang mengetahui tentang kekalahan itu.

Sejak awal pertandingan sepak bola internasional ini, realitas “Baku Gara” sudah sangat terasa. Selain telah (sedikit) mempelajari tentang gejala era Post Truth, aku juga telah melihat grup-grup WhatsApp yang khusus dibuat sebagai wadah “Baku Gara” piala dunia 2022. Bahkan, sebelum kejuaraan ini dimulai, berbagai atribut yang menjadi “simbol” kebanggaan tim sepak bola andalan, sudah terpajang dan berkibar dengan epik nan indah.

Berbagai meme dan celoteh, yang nantinya akan menjadi bahan sosial media saat tim andalan meraih kemenangan, atau bahkan saat jagoan teman kalah, juga telah disiapkan untuk menjadi semacam “Spam Chat“. Memang cukup menyesakkan. Ejekan tidak hanya diterima oleh mereka yang kalah, tapi juga diterima oleh mereka yang “pada akhirnya” andalannya menang, namun tercatat pernah mengalami kekalahan atau kekurangan.

Dan kenapa “Baku Gara” ini menjadi sangat menarik? karena momen ini terjadi tidak hanya saat pertandingan berlangsung. Tapi bisa terjadi saat pertandingan belum berlangsung, hingga pertandingan telah berlangsung, dan menghasilkan “kekalahan”.

Inilah yang menjadi euforia tersendiri dalam ajang piala dunia kali ini. Seseorang bisa merasakan kekalahan, sebelum kekalahan itu benar-benar terjadi secara fisik. Dan keterpurukan akan kekalahan itu terus dirasakan, bahkan setelah kekalahan itu telah berlalu.

Korban Baku Gara Piala Dunia 2022

Realita "Baku Gara" di Piala Dunia 2022

Selayaknya persoalan selangkangan, piala dunia juga banyak menimbulkan korban. Bukan hanya korban saat bermain sepak bola, tapi juga korban yang mendukung pesepak bola itu.

Menjelang pertarungan tim kesayangan, tiba-tiba saja, sekumpulan manusia yang entah dari mana dan bagaimana siklusnya, muncul sebagai pendukung tim lawan. Menyerang dengan berbagai meme, untuk mengejek dan melantunkan berjuta harapan, agar tim kesayangan kita kalah dalam pertarungan.

Kondisi ini tidak akan terlalu menyakitkan, jika pertarungan memperhadapkan kedua tim yang memiliki Track Record yang baik dalam ajang piala dunia. Karena keduanya sama-sama memiliki pendukung “fanatik” yang tidak partisan. Namun yang paling menyakitkan, jika tim kesayangan kita, berhadapan dengan tim yang tidak memiliki Track Record yang baik, sehingga akan sangat memalukan jika kekalahan benar-banar terjadi.

Dan benar, ketika kekalahan benar-benar terjadi, rasa sakit dan kesal dirasakan berkali-kali lipat. Menerima kenyataan bahwa andalan kita, harus kalah dengan tim yang (biasanya) tidak terlalu diperhitungkan, adalah sebuah kekecewaan yang nyata.

Kehadiran para pendukung partisan, yang datang hanya untuk memeriahkan realitas “Baku Gara” ini, juga menjadi pemantik emosi terbaik, bagi para pendukung fanatik, yang benar-benar menonton untuk menyaksikan tim kesayangannya bertarung. Berbagai ejekan dan celotehan, kerap kali dilancarkan oleh para pendukung partisan, yang tujuannya tidak lain hanya untuk membuat para pendukung fanatik benar-benar merasa geram dan emosi.

Apalagi saat menyaksikan model pertarungan tim kesayangan, jauh dari harapan. Bayang-bayang kekalahan, ditambah kekesalan akibat “Baku Gara”, membuat imajinasi kekalahan, mulai menempati ruang serius di pikiran. Sungguh, tiada yang lebih perih, dari kondisi seorang pendukung fanatik, yang kesal karena menjadi korban “Baku Gara” saat pertandingan berlangsung.

Kesal karena tim kesayangannya kalah, dan kesal karena harus menanggung banyaknya ejekan tanpa perlawanan saat kekalahan itu berlalu. Kondisi mengubah seseorang, dari peserta “Baku Gara” menjadi korban “Baku Gara”.

FIFA 2022 World Cup & Era Post Truth

Piala Dunia FIFA 2022 Meme

Era Post Truth memang sangat menguji mental dan emosi. Membuat yang sebenarnya menyakitkan, bukanlah kekalahan. Melainkan ejekan bahkan sering kali hinaan, yang diterima oleh korban “Baku Gara” saat tim andalan mengalami kekalahan. Hal inilah yang menjadi penting, dalam melihat berbagai perkelahian yang terjadi, antar pendukung fanatik dan pendukung partisan.

Keduanya sama-sama mengetahui bahwa, mau sebesar apa pun kemenangan tim sepak bola, tak akan ada pengaruh bagi keberlangsungan hidup. Yang ada malahan keburukan, karena harus bermusuhan dengan tetangga, atau teman sejawat, hanya karena berbeda tim andalan. Tapi begitulah, emosi dengan mudahnya menguasai manusia, sehingga dirinya tak lagi memedulikan mana benar dan salah, tapi mana yang menyenangkan, meskipun itu salah.

Sejatinya, seorang pendukung fanatik yang mengalami kekalahan, harus menerima realitas yang memukulnya berkali-kali ini. Sembari berharap, akan ada waktu di mana tim andalan, akan keluar sebagai pemenang, dan menjawab seluruh ejekan dan menghapus luka kekalahan.

Artikel Terkait: Setelah RKUHP Disahkan, Suara Telah Dibungkam

Yang terpenting adalah, bagaimana pun buruknya kekalahan, peristiwa itu tetap menjadi pengalaman yang memberikan pengetahuan autentik. Bahkan sebelumnya, tulisan ini belum benar-benar bisa diselesaikan, karena penulis masih menemukan berbagai “kebuntuan” dalam menguraikan fenomena ini. Dan benar kata Obito Uciha, “Manusia tidak akan pernah saling memahami, jika belum merasakan penderitaan yang sama”.

Penulis tidak akan benar-benar merasakan realitas “Baku Gara”, sebelum benar-benar terlibat dalam realitas itu, dan bahkan harus merasakan bagian terburuk dari “Baku Gara”, yaitu menjadi korbannya.

Jadi, sangat diharapkan para pembaca untuk tidak meragukan pengetahuan penulis, karena penulis sudah merasakan, bagaimana menjadi pendukung fanatik, yang harus menerima kekalahan dan beragam ejekan. Dan benar, rasanya benar-benar menyesakkan.

Dan akhirnya, semua perjalanan terjadi di Piala Dunia FIFA 2022 telah berakhir. Meski begitu, penulis sering mendapati beberapa tempat yang masih memiliki realitas “Baku Gara” ini. Sangat diharapkan, seluruh dinamika yang hadir selama menjadi pendukung, diselesaikan dengan baik dan khidmat. Karena sejatinya, sepak bola adalah ajang bersatu nan mempersatukan. Selebihnya, tidak ada solusi. Silakan mengekspresikan dukungan.

Apa pun itu, diri kita berhak mendukung tim mana pun. Seperti penulis, yang mendukung Timnas Brazil di Piala Dunia FIFA 2022. Namun, harus dipaksa pulang kampung, yang diikuti oleh penulis dengan penyesalan dan rasa tak percaya, hingga kesulitan untuk tidur. Terakhir, penulis mengajak seluruh pembaca untuk tertawa terbahak-bahak. Ini hanya dunia yang fana. Hahaha.

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *